MENIT PERTAMA

BERBAGI BERITA TERPOPULER, AKTUAL, INDEPENDEN DAN BERIMBANG

Di Maskam UGM, Azyumardi Azra Paparkan Sejarah Beragamnya Muslim Indonesia

3 min read

Sleman, Gatra.com – Islam di Indonesia memiliki corak yang beragam. Keragaman corak tersebut memiliki akar sejarah. Sejarawan dan cendekiawan Islam, Azyumardi Azra, membagi ragam Islam di Indonesia dalam empat pembabakan sejarah.

Pembabakan sejarah Islam tersebut disampaikan Azra dalam ceramah jelang berbuka puasa di Masjid Kampus (Maskam) Universitas Gadjah Mada, Kamis (16/5) sore. Ceramah bertajuk “Tipologi Islam di Indonesia” menjadi rangkaian acara kegiatan Ramadan di Kampus (RDK) UGM.

“Tipologi dapat diartikan sebagai corak,” ujar Guru Besar Sejarah Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Pada kesempatan itu, Azra memberi konteks sejarah pada perkembangan corak Islam di Indonesia. Menurut Azra, perkembangan itu dapat dilihat sejak awal masuknya Islam di Indonesia pada pertengahan abad ke-13.

Di masa itu, Islam meluas karena menggabungkan ajarannya dengan ajaran kepercayaan yang telah lebih dulu ada. Sejak saat itu, Islam berkembang membentuk dua ragam. Ragam pertama adalah Islam yang teguh pada ajaran fiqh, sedangkan ragam kedua bersifat sufistik atau tasawuf.

“Terjadi konflik antara tasawuf dengan Islam fiqh. Ulama tasawuf digambarkan tidak cocok dengan ulama fiqh,” tutur Azra.

Di akhir abad ke-17, kontestasi di antara kedua corak tersebut berangsur mereda karena integrasi dalam keilmuan ulama. Menurut Azra, pada masa itu terjadi gelombang pemurnian Islam sinkretik ke arah Islam syariah seperti digambarkan para ulama.

Proses tersebut terus berlangsung, bahkan hingga masuknya pemerintah kolonial ke Indonesia sekitar abad ke-18. Kolonialisasi justru membuat Islam tumbuh subur. Banyak gerakan perlawanan terhadap Belanda berasal dari kalangan ulama dan pengikutnya.

Islam membangkitkan semangat persaudaraan melawan kolonialisme. “Diponegoro adalah salah satu pengikut tarekat yang berjuang melawan kolonial,” ujar Azra.

Kolonialisasi pula yang menumbuhkan semangat Pan-Islamisme. Menurut Azra, kemunculan Pan-Islamisme sebagai rasa persatuan dan persaudaraan muslim sedunia dipengaruhi pengalaman kolonialisasi di daerah dengan mayoritas muslim.

“Di saat bersamaan, muncul kaum reformis-modernis yang ingin menata sekaligus memodernisasi umat muslim,” ujar Azra. Namun, kemunculan kaum reformis mendorong kemunculan corak tradisionalis, corak Islam yang yang dipahami sebagai kepatuhan pada jenjang pemikir dari ulama hingga Nabi Muhammad.

Menurut Azra, kaum tradisionalis memiliki kecenderungan taklid pada ulama, sedangkan kaum reformis memilih jalan ijtima’. Walau pada akhirnya, di antara corak satu dengan lainnya semakin dekat dan terjadi pertukaran karena perubahan sosial dan pendidikan.

Di masa kini, Azra mengatakan, umat Islam menyaksikan perkembangan Islam transnasional yang berkembang sejak awal tahun 2000. Islam transnasional memiliki kecenderungan berorientasi pada Timur-Tengah dan bertentangan dengan kalangan muslim yang lebih menekankan nasionalisme.

Namun, Azra berpesan bahwa pertentangan yang selama ini terjadi bukan penyebab kegagalan ekonomi umat muslim saat ini. Azra lantas berkaca pada komentar Muhammad Natsir soal ibadah, ekonomi, dan politik bagi umat Muslim.

Azra menganggap hal tersebut tidak berlaku lagi pada konteks sekarang ini. “Kegagalan ekonomi umat Islam pada konteks sekarang lebih diakibatkan persoalan struktural,” ujar Azra.

Reporter: Abilawa Ihsan


Editor: Arif Koes Hernawan


ARTIKEL INI TELAH TAYANG DI SITUS BERITA GATRA

Tinggalkan Balasan

BERITA TERBARU