MENIT PERTAMA

BERBAGI BERITA TERPOPULER, AKTUAL, INDEPENDEN DAN BERIMBANG

16 Tahun Menikah Belum Dikaruniai Anak, Sempat Hamil tapi Saya Harus Ikhlas Mengembalikannya pada Tuhan

3 min read

16 Tahun Menikah Belum Dikaruniai Anak, Sempat Hamil tapi Saya Harus Ikhlas Mengembalikannya pada Tuhan

16 Tahun Menikah Belum Dikaruniai Anak, Sempat Hamil tapi Saya Harus Ikhlas Mengembalikannya pada Tuhan

Usia saya sudah 40 tahun sekarang dan status menikah. Tapi, sampai detik ini Tuhan belum mengizinkan saya menimang seorang bayi dalam dekapan. Sedih sudah pasti, tapi keyakinan saya pada Tuhan ialah ada misi lain yang saya harus kerjakan selain mengasuh anak.

Bukan waktu yang sebentar untuk saya menanti seorang anak. Saya dan suami menikah pada 20 September 2003. Ya, sudah 16 tahun saya menunggu ada janin dalam rahim. Meski begitu rumah tangga saya dan suami tetap hangat hingga sekarang.

Jika waktu dimundurkan, saya teringat momen di mana saya menunda kehamilan selama 3 tahun. Ini karena saya harus menyelesaikan kuliah dan meniti karier. Usia saat menikah kala itu 24 tahun dan saya merasa masih ada mimpi yang ingin dikejar di momen itu. Punya momongan juga sepertinya saya belum siap. “Ngga ah, aku belum shuttle,” kataku terkait dengan keinginan punya anak di 3 tahun pertama pernikahan.

Namun, waktu terus berjalan. Sampai akhirnya aku kenyang dengan omongan orang-orang di sekitar yang menanyakan di mana anakku, kenapa belum terlahir. Kesal sudah pasti, tapi kalau sekarang sudah santai. Saya sudah ikhlas. Ya, sesekali terlihat tegar di depan teman-teman, tapi pas masuk mobil, saya mewek juga.

Setiap tahun selalu ditanya perihal anak, membuat saya akhirnya yakin untuk punya. Pernyataan teman juga yang kemudian membuat saya dan suami yakin untuk memiliki momongan. “Jangan sampai masuk usia 30 tahun tapi belum punya anak,” kata teman-temanku. Program kehamilan pun dilakukan.

Singkat cerita, saya pergi ke dokter kandungan. Seorang diri. Pemeriksaan dilakukan dan ternyata hasilnya menyatakan tidak ada masalah kesuburan yang saya miliki. Saya sehat. Namun, untuk memaksimalkan program kehamilan, dokter memberi saya vitamin.

Lalu, berjalannya waktu, tetap saja program ini tak memberi hasil. Saya akhirnya mencari dokter lain, banyak yang saya datangi. Sekali lagi, saya datang ke dokter tak ditemani suami. Sampai akhirnya dokter menyarankan untuk saya mengajak suami untuk dicek kesehatan dan kesuburannya.

Ini momen yang sulit buat saya. Kesibukan suami yang begitu padat membuat dia tak memiliki kesempatan untuk ikut dengan saya pergi ke dokter kandungan. Tapi, suatu ketika ada waktu, ya, kami berdua pergi bersama. Pemeriksaan pada suami pun dilakukan.

Dokter bilang kalau suami saya memiliki masalah! Ya, ekor sperma suami saya pendek, ini yang membuat sperma menjadi tak gesit, membuat pertemuan sperma dengan sel telur tak terjadi.

Selepas itu, selama 3 tahun saya stres. Pengobatan alternatif pun dilakukan untuk bisa mendapatkan harapan memiliki anak. Usia pernikahan pun masuk ke angka 10 tahun. Di momen itu, aku kadang suka iri sama pasangan suami istri yang punya anak. Saya pengin juga.

Tak bisa dipungkiri, karena kondisi ini ditambah dengan stres, hubungan saya dan suami sempat diterpa percikan api. Saya jadi lebih sensitif, apalagi saat suami menolak pergi periksa. Saya merasa, “Kok saya doang yang berusaha!”.

Tapi, sikap ini tidak bertahan lama. Saya kembali teringat pada janji pernikahan saya dan dia di awal menikah. Di mana, saya akan setia bersama suami dalam suka mau pun duka. Saya berjanji untuk setia bersama suami dalam kondisi malang mau pun untung. Ini yang menguatkan saya.

ARTIKEL INI TELAH TAYANG DI SITUS BERITA GAYA HIDUP FEMALESIA

Tinggalkan Balasan

BERITA TERBARU