MENIT PERTAMA

BERBAGI BERITA TERPOPULER, AKTUAL, INDEPENDEN DAN BERIMBANG

Jakarta Kota Terbuka

2 min read

“Ke Jakarta aku kan kembali
Walaupun apa yang kan terjadi”.

INI petikan lirik lagu yang berjudul “Kembali ke Jakarta” yang dinyanyikan band legendaris Koes Plus.

Lagu ini menceritakan meski telah pergi jauh,  akan tetap kembali ke Jakarta. Karena di sana rumahku, dalam kabut biru. Di sana juga ada yang berdiri menunggu ‘kasihku’.

Lagu ini selaras dengan kisah para pemudik Lebaran di era kini.

Pulang mudik menjadi ritual rutin setiap tahun bagi para perantau. Sejauh mana pun pulang ke kampung halaman, usai Lebaran, selesai cuti bersama, para pemudik akan kembali ke Jakarta. Kembali melakukan aktivitas pekerjaannya di Jakarta dengan beragam profesi yang digelutinya. Ada Aparatur Sipil Negara (ASN), pegawai BUMN, pengusaha, swasta, pedagang, dan pekerja serabutan. Bahkan, yang belum memiliki pekerjaan pun ikut ke Jakarta bersama teman atau sanak familinya dengan satu tujuan: mencari pekerjaan.

Apakah aktivitas seperti ini – sering disebut urbanisasi, harus dilarang? Jawabnya tak ada larangan bagi siapa pun untuk mencari nafkah di Jakarta.

Di negara mana pun, ibukota negara terbuka untuk semua warganya sepanjang jelas jati dirinya. Maknanya jika ingin merantau wajib melengkapi identitas diri berupa dokumen kependudukan beserta surat – surat lainnya.

Hal yang tak boleh dilupakan, meski bukan menjadi kewajiban adalah memiliki bekal keterampilan yang cukup. Ini penting sebagai bekal diri  agar mampu bersaing memperebutkan pasar kerja.

Ibarat orang bepergian ke suatu tempat, tanpa bekal yang cukup, dapat menyulitkan dirinya sendiri di tempat tujuan yang pada akhirnya akan merepotkan orang lain, masyarakat sekitar sehingga menambah beban bagi daerah yang dituju.

Jakarta sebagai kota terbuka tidak bisa mencegah arus urbanisasi. Yang  bisa dilakukan hanya memfilter pendatang yang tidak memiliki identitas kependudukan. Ini tidak bisa serta memulangkan mereka ke desa asal.

Ke depan hendaknya perlu adanya kajian untuk merumuskan bagaimana menyeleksi bekal keterampilan para pendatang. Persoalannya apakah yang tidak berketerampilan, dibatasi geraknya untuk mencari nafkah di Jakarta? Tentu saja tidak. Jika demikian,  filter ada dalam diri masing- masing pendatang karena merekalah yang akan memetik hasilnya kelak. (*)

ARTIKEL INI TELAH TAYANG DI SITUS BERITA POS KOTA

Tinggalkan Balasan

BERITA TERBARU